Like this ?
Sabtu, 15 Juni 2013
INVESTASI JARIYAH DENGAN MENDIDIK ANAK YANG SOLEH DAN BERKARAKTER MULIA
Bismillahirohman nirrohim
Assalamualaikum WR. Wb.
Asshaduallaillaha illallah wa asshaduannamuhammaddar rosulullah
Allahumma sholiala sayyidina Muhammad, wa ala ali Muhammad
Alhmdulillahirobbil alamin
Ibu – ibu majelis taklim yang di kasihi Allah !
Bersyukur atas nikmat Allah yang maha Segala, atas setiap hirupan nafas yang diberikannya, setiap tarikan nafas yang kita hirup memerlukan kurang lebih 500 cc atau ½ Liter kurang dari 1 detik, jika dihitung 1 detik dalam 24 jam nafas yang kita ambil sekitar 43.200 liter atau sekitar hampir 800 tabung besar di rumahsakit jika kita mengalami gangguan kesehatan, ibu – ibu bisa kalikan sendiri berapa tahun usia kita, berapa bulan, berapa hari dengan sehari memerlukan sekitar 800 tabung sudah berapa M uang yang kita harus bayar seandainya tidak disediakan Allah SWT.
Sungguhpun demikian nikmat allah atas kemampuan bernafas serta ketersediaan oksigen ini merupakan nikmat allah yang tidak dapat tergantikan oleh uang berapapun besarnya, Oksigen ini masih akan mengalir melalui peredaran kita membawa sari2 makanan yang kita makan untuk mentenagai tubuh kita, menyuplai sampai ke otak, sehingga kita dapat tumbuh dan berpikir secara lebih jernih dan mendalam. Tentunya manusia yang Iqro, yang terus membaca dan belajar ayat – ayat Allah yang diturunkan lewat Al quranul qarim atau yang bertebaran disekitar kita.
Ibu – ibu majelis taklim yang di rindukan Allah !
Ada 3 perkara yang kelak di hari kemudian tidak akan terputus, yaitu:
1. Ilmu yang bermanfaat, menjadikan ilmu yang bermanfaat tidak hanya dipersepsikan sebagi guru atau pendidik, kita mengaji sama – sama mengikuti majelis taklim, menyebarkan kebaikan – kebaikan seperti ini juga termasuk mengamalkan pengetahuan kita atas ilmu yang dimiliki, mengamalkan untuk hidup rukun dalam rasa syukur penuh tenggang rasa dan kebersamaan tentunya dalam mencintai Rosul menambah syukur nikmat yang di berikannya.
2. Amal Jariyah, mewaqohkan tanah atau bangunan untuk kemashlatan umat, untuk pesantren, untuk masjid, untuk jalan raya, dsb
3. Yang terakhir, adalah perkara Anak yang sholeh dan sholehah
Sebagaimana dalam ayat allah ….
“… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri….” (QS. Ar-Ra’du : 11)
Masa depan keluarga, masa depan bangsa, bahkan masa depan kita sendiri kelak setelah melewati fase hidup adalah Anak…
Mencetak anak yang sholeh, yang menyayangi orang tua, yang membiasakan diri mendoakan orang tua baik disaat kita hidup atau sudah tiada. Hal ini merupakan investasi jariyah kita, tidak akan terputus dari kita hidup maupun nantinya setelah masa kita hidup.
Ibu – ibu majelis taklim yang di sayangi oleh Allah ….
Investasi terhadap anak disini tidak dibatasi pada ditinggalinya harta benda emas dan sejumlah uang yang aman dalam rekening bank , rumah dan tanah yang luas…tetapi yang paling utama adalah pendidikan yang baik, yang telah jelas di suratkan dalam ayat:
“ … Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….”
( QS. Al-Mujadillah : 11)
Bukan harta, bukan baju yang dikenakan, bukan pula mobil yang berjejer atau tanah yang ber hektar tetapi yang membuat derajat kita lebih tinggi adalah ilmu pengetahuan…, tentunya ilmu di sini adalah ilmu yang bermanfaat. Bukan Seperti kita lihat di media atau bahkan lingkungan kita sendiri, tidak sedikit professor atau doctor atau bahkan ulama yang mengamini juga untuk bertindak tidak cerdas hati seperti berbuat korupsi.
Kemudian Allah mengajak kita untuk berfikir lewat ayatnya :
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak - anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S An- nisa : 9 )
Konsep mendidik anak sholeh berkarakter adalah yang memenuhi ;
Multilingual, attitude/morality, problem solving, IT, skill komunikasi, kritis dan berpikir kreativ, interpersonal skill dan reasoning skill …..
Tentunya mendidikan karakter yang diuraikan tadi, membutuhkan biaya,
sebagaimana sabda nabi : Tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina, yang tentunya dari saudi ke Cina butuh biaya, atau orang Jawa Timur memberikan makna dengan Ungkapan Jer Basukhi Mawa Bea…menjadi Basukhi atau manusia yang baik dalam segala hal membutuhkan biaya, biaya untuk mendapatkan sekolah yang baik …..
Penerapan nilai – nilai seperti yang diuraikan tadi tentunya faktor paling utama adalah pendidikan dalam keluarga itu sendiri, tempat anak mempelajari nilai – nilai hidup sebenarnya yang utama adalah seorang ibu, bahkan seorang ibu professor kimia di Negara Israel pun rela tidak melanjutkan karier demi mendidik anaknya, kita tahu bahwa mereka bukan muslim. Tetapi bagaimanapun kondisinya sekolah bukanlah tanggungjawab utama untuk menjadikan anak sholeh berkarakter sebagai investasi jariyah, sekolah hanya mengajarkan dan mendidikan, tetapi yang paling penting adalah pendidikan yang diperoleh dalam keluarga sebagai nilai – nilai praktek dalam keseharian.
Akhirnya Saya tutup Majelis yang sangat mulia ini dengan Kalimat
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan olokan, ia akan rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar akan belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian.
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia akan merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran, dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.
Al Haqu Minallah…Ihdinassirotol mustakim,
Billahitaufiq wal hidayah …
Waasss Wr.Wb
MEMBANDINGKAN KEARIFAN SUKU BADUY DALAM DENGAN KEARIFAN LOKAL SUKU DAYAK KALIMANTAN PADA ARUS MODERNISASI
MEMBANDINGKAN KEARIFAN SUKU BADUY DALAM DENGAN
KEARIFAN LOKAL SUKU DAYAK KALIMANTAN PADA ARUS MODERNISASI
Rofiah
( Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Lingkungan
Universitas Mulawarman )
PENDAHULUAN
Kearifan lingkungan atau kearifan lokal (lokal wisdom) sudah ada di dalam kehidupan masyarakat semenjak zaman dahulu, kearifan lingkungan merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang dapat bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, petuah nenek moyang atau budaya setempat (Wietoler, 2007), yang terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya, perilaku ini berkembang menjadi suatu kebudayaan di suatu daerah dan akan berkembang secara turun-temurun, secara umum, budaya lokal atau budaya daerah dimaknai sebagai budaya yang berkembang di suatu daerah, yang unsur-unsurnya adalah budaya suku-suku bangsa yang tinggal di daerah itu.
Kearifan lokal sering juga dimaknai sebagai suatu pemikiran yang tidak berdasarkan pada teori-teori yang ada, yang dipahami sebagai kepercayaan dan suatu tradisi yang harus dilakukan oleh masyarakat setempat, tanpa mengkaji secara mendalam pemaknaan manfaat dari adanya kearifan lokal yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri.
Kearifan lokal merupakan suatu bentuk kearifan lingkungan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat di suatu tempat atau daerah. Jadi merujuk pada lokalitas dan komunitas tertentu. Menurut Putu Oka Ngakan dalam Andi M. Akhmar dan Syarifudin (2007) kearifan lokal merupakan tata nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempatnya hidup secara arif. Maka dari itu kearifan lokal tidaklah sama pada tempat dan waktu yang berbeda dan suku yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh tantangan alam dan kebutuhan hidupnya berbeda, sehingga pengalamannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memunculkan berbagai sistem pengetahuan baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial. Sebagai salah satu bentuk perilaku manusia, kearifan lokal bukanlah suatu hal yang statis melainkan berubah sejalan dengan waktu, tergantung dari tatanan dan ikatan sosial budaya yang ada di masyarakat. Sementara itu Keraf (2002) menegaskan bahwa kearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Semua bentuk kearifan lokal ini dihayati, dipraktekkan, diajarkan dan diwariskan dari generasi ke generasi sekaligus membentuk pola perilaku manusia terhadap sesama manusia, alam maupun gaib.
Selanjutnya Francis Wahono (2005) menjelaskan bahwa kearifan lokal adalah kepandaian dan strategi-strategi pengelolaan alam semesta dalam menjaga keseimbangan ekologis yang sudah berabad-abad teruji oleh berbagai bencana dan kendala serta keteledoran manusia. Kearifan lokal tidak hanya berhenti pada etika, tetapi sampai pada norma dan tindakan dan tingkah laku, sehingga kearifan lokal dapat menjadi seperti religi yang memedomani manusia dalam bersikap dan bertindak, baik dalam konteks kehidupan sehari-hari maupun menentukan peradaban manusia yang lebih jauh. Adanya gaya hidup yang konsumtif dapat mengikis norma-norma kearifan lokal di masyarakat. Untuk menghindari hal tersebut maka norma-norma yang sudah berlaku di suatu masyarakat yang sifatnya turun menurun dan berhubungan erat dengan kelestarian lingkungannya perlu dilestarikan yaitu kearifan lokal.
Untuk itu kita perlu menggali kembali kearifan lingkungan masyarakat, peran serta dari semua disiplin ilmu baik teknik, geologi, geografi, hidrologi, sosiologi dan lain sebagainya dalam mengelola kawasan secara berkelanjutan. Mengingat dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan adanya kemajuan teknologi membuat orang lupa akan pentingnya tradisi atau kebudayaan masyarakat dalam mengelola lingkungan, seringkali budaya lokal dianggap sesuatu yang sudah ketinggalan di abad sekarang ini, sehingga perencanaan pembangunan seringkali tidak melibatkan masyarakat ( top down ).
Kearifan lokal Suku Baduy Dalam
Menurut Gunggung Senoaji (2003 :121) Masyarakat Baduy percaya bahwa mereka adalah orang yang pertama kali diciptakan sebagai pengisi dunia dan bertempat tinggal di pusat bumi. Segala gerak laku masyarakat Baduy harus berpedoman kepada buyut yang telah ditentukan dalam bentuk pikukuh karuhun. Seseorang tidak berhak dan tidak berkuasa untuk melanggar dan mengubah tatanan kehidupan yang telah ada dan sudah berlaku turun menurun.
Pikukuh itu harus ditaati oleh masyarakat Baduy dan masyarakat luar yang sedang berkunjung ke Baduy. Ketentuan-ketentuan itu diantaranya adalah :
1. Dilarang masuk hutan larangan (leuweung kolot) untuk menebang pohon, membuka ladang atau mengambil hasil hutan lainnya
2. Dilarang menebang sembarangan jenis tanaman, misalnya pohon buah-buahan, dan jenis-jenis tertentu
3. Dilarang menggunakan teknologi kimia, misalnya menggunakan pupuk, dan obat pemberantas hama penyakit dan menuba atau meracuni ikan
4. Berladang harus sesuai dengan ketentuan adat, dll
Buyut dan pikukuh karuhun dilafalkan dangan bahasa sunda kolot dalam bentuk ujaran
yang akan disampaikan pada saat upacara-upacara adat atau akan diceritakan oleh orang tua kepada anak-anaknya.Ujaran-ujaran itu dianggap sebagai prinsip hidup masyarakat Baduy.
Orang Baduy juga berpegang teguh kepada pedoman hidupnya yang dikenal dengan dasa
sila, yaitu (Djoeswisno dalam Gunggung Senoaji, 2003 : 125)
1. Moal megatkeun nyawa nu lian (tidak membunuh orang lain)
2. Moal mibanda pangaboga nu lian (tidak mengambil barang orang lain)
3. Moal linyok moal bohong (tidak ingkar dan tidak berbohong)
4. Moal mirucaan kana inuman nu matak mabok (tidak melibatkan diri pada minuman yang memabukkan
5. Moal midua ati ka nu sejen (tidak menduakan hati pada yang lain/poligami)
6. Moal barang dahar dina waktu nu ka kungkung ku peting (tidak makan pada tengah malam)
7. Moal make kekembangan jeung seuseungitan (tidak memakai bunga-bungaan dan wangi-wangian)
8. Moal ngageunah-geunah geusan sare (tidak melelapkan diri dalam tidur)
9. Moal nyukakeun atu ku igel, gamelan, kawih, atawa tembang (tidak menyenangkan hati dengan tarian, musik atau nyanyian)
10. Moal made emas atawa salaka (tidak memakai emas atau permata)
Dasar inilah yang melekat pada diri orang Baduy, menyatu dalam jiwa dan menjelma dalam perbuatan, tidak pernah tergoyah dengan kemajuan zaman. Jika dilihat kehidupan masyarakat Baduy, sulit untuk dipertemukan dengan keadaan zaman sekarang. Jikapun ada sedikit penyesuaian ada pada suku Baduy Luar.
Bagaimana Suku Dayak memiliki kearifan lokal terhadap Pengelolaan SDA?
A. Mengelola Api
Kearifan penyebab kerawanan hutan terhadap kebakaran, penyebab api liar, sumber api rutin di lahan, teknik mencegah terjadinya kebakaran, tanda kemarau dan dengan adanya sangsi jipen (denda) bagi pelanggar pembakaran. Prinsip pemadaman di masyarakat ditunjukkan adanya sistem kebersamaam menghadapi musim kemarau. Aktivitas pemadaman dilakukan dengan cara memadamkan api kecil dan pembakaran terkendali pada ladang,
Umumnya masyarakat Dayak yang hidup di sekitar hutan menganggap api sebenarnya dapat dicegah karena dapat diketahui secara dini. Api liar umumnya berasal dari kelalaian sebagian kecil masyarakat saat membuka ladang dengan membakar. Kebakaran terjadi akibat kelalaian yang saat pembakaran di kondisi cuaca sangat kering dan angin kencang sehingga muncul api loncat yang dapat menjadi api liar baru di sekitar hutan. Berikut Bagaimana teknik mencdegah kebakaran pada saat membuka lahan dengan cara dibakar:
= Titik api
Membuka lahan dengan menggunakan titik api yang disebar melingkar, sehingga apinya tidak tersebar membakar lokasi lainnya, jadi buka dibakar diujungnya, hal inilah yang dapat membuat api merambat kemana – mana dan mengakibatkan kebakaran hutan.
B. Pengaturan Peruntukan dan pemanfaatan lahan
Belajar dari Dayak Ngaju
Pukung Pahewan adalah kawasan tanah adat dayak ngaju yang dikelola secara turun temurun serta diwariskan kepada anak cucu sehingga kawasan tersebut dikembangkan atau dilestarikan menjadi hutan lindung yang dianggap tempat leluhur serta dikeramatkan sebagai tempat orang halus (nyaring dan jin), siapapun tidak boleh menjamah tempat ini, tanpa permisi dan seijin dengan penghuni kawasan hutan tersebut. Kawasan hutan adat dayak ngaju ini juga dijadikan sebagai tempat ritual adat secara khusus.
Sahepan merupakan kawasan tanah adat dayak ngaju dikelola dan dikembangkan menjadi hutan produksi tempat masyarakat setempat berburu. Di dalam kawasan hutan tersebut banyak binatang buruan yang boleh diburu ataupun dimanfaatkan dan sumber daya alam dari kawasan tersebut seperti kayu, gemor, getah pantung, rotan, obat-obatan tradisional dan lain-lain.
Kaleka adalah kawasan tanah adat yang bersejarah yang juga pernah dikelola secara kearifan lokal oleh nenek moyang pada jaman dulu dan dijadikan tempat mendokoh (tempat pemukiman kecil), tempat berladang, dan juga ada peninggalan berupa kuburan, sanding dan tanaman keras, karena terlalu lama ditinggal sehingga ditumbuhi semak belukar dan sewaktu-waktu kaleka dapat kembali dijadikan sebagai tempat berladang.
Tajahan merupakan kawasan tanah adat mencakup beberapa nama yang jauh dari DAS (sungai) besar. Akan tetapi dibagian ujung anak sungai kecil wilayah tersebut banyak beje (sejenis kolam), baruh/loto (kolam alami) dan sekelilingnya ditumbuhi kayu yang besar dan tempat ikan berkembang biak. Masyarakat setempat dapat memanfaatkan kawasan tersebut pada musim kemarau dengan menggunakan alat tradisional berupa tangguk, siap(penjaring) dan lain-lain untuk menangkap ikan.
Bahu adalah kawasan tanah adat dayak ngaju yang setiap tahunnya dikelola atau digarap serta digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagai sandang pangan. Sifat kawasan tersebut lebih ke kawasan perluasan lahan pertanian padi gunung, sayur mayur dan palawija.
B.1 Pengaturan Peruntukan Tanah :
Petak Katam adalah tanah adat dayak ngaju berwarna kuning muda yang berada dipinggir sungai, kemungkinan bisa dibangun untuk permukiman masyarakat atau bisa juga dijadikan sebagai perkebunan karet, cempedak, durian, ramunia dan lain-lain.
Petak Pamatang adalah tanah adat dayak ngaju sejenis tanah mineral (padat) yang bisa digunakan untuk perladangan, tanaman rotan, karet, buah-buahan dan lain-lain.
Tanah Sahep adalah tempat masyarakat adat berusaha mencari nafkah sehari-hari untuk kebutuhan rumah tangga. Tanah Sahep ini terdiri dari dua jenis, yang pertama adalah tanah gambut tipis antara 50 cm – 1,5 cm, tanah ini masih bisa dijadikan tempat pertanian padi gunung, sayur mayur, palawija dan juga bisa dijadikan tempat perkebunan karet, rotan dan lain-lain dan tanah sahep yang kedua adalah tanah gambut dalam di atas dari 2 meter -16 meter, tanah gambut dalam ini tidak bisa dimanfaatkan sebagai tempat perkebunan karet atau pertanian, kawasan ini hanya bisa dikembangkan tanaman hutan untuk industri, jelutung, rotan, gemur dan jenis-jenis kayu yamg cocok hidup dan yang dianggap bermanfaat untuk kehidupan masyarakat adat. Di daerah gambut dalam ini juga sering terendam air akan tetapi rendamannya tidak terlalu lama.
Tanah Luwau adalah sejenis tanah yang bergambut dalam sering terendam lama oleh air dan bisa mencapai setengah tahun terkecuali baru terlihat tanahnya apa bila musim kemarau panjang yang mencapai 3 bulan-4 bulan lamanya. Di tanah luwau ini banyak danau-danau besar atau pun kecil dengan kedalaman 10 meter-20 meter di sinilah temat ikan-ikan besar berkembang biak dan selain itu banyak juga buaya, ular bermacam-macam jenis, kura-kura, biyuku ,bidawang, kodok besar dan lain. Tanah luwau ini juga ditumbuhi kayu yang besar dan bagian bawah ditumbuhi rerumputan atau akar-akaran juga sering terdapat pohon gemur. Wilayah tanah luwau ini tidak bisa dijadikan tempat berkebun dan berladang, hanya yang bisa untuk dijaga serta di lestarikan dan kawasan ini sebagai tempat masyarakat adat dayak ngaju berusaha mancari ikan, mencari gemur, kayu untuk bahan bangunan rumah serta obat-obatan tradisional dan sebagainya nya. Tanah luwau sangat berguna sekali karena bisa digunakan sebagai pupuk organik.
Konsep tata kelola tersebut telah dijalankan selama bertahun-tahun oleh Masyarakat Adat Dayak Ngaju, hal itu telah berhasil menjaga kelestarian gambut sekaligus telah menyumbangkan perekonomian bagi warga setempat dan daerah.
Masyarakat Adat Dayak Ngaju Desa Mantangai Hulu rata-rata memiliki kebun karet per kepala keluarga. Selama musim kemarau, masyarakat bisa menutupi kebutuhan hidup dari hasil penjualan getah karet. Namun ketika musim hujan tiba, getah karet mereka tidak bisa disadap. Kalaupun dipaksa, hasilnya tidak maksimal bahkan batang karet terancam mati.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup dimusim hujan, sebagian menanam padi ladang gunung jenis geragai, sambil menunggu padi dipanen, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat mencari rotan di hutan, mencari kulit gemur, serta menangkap ikan di sungai kecil/besar, danau, baruh/loto (kolam Alami) dan beje.
Melihat cara bertahan hidup masyarakat yang bergantung kepada alam dan musim, bahwa Masyarakat Adat Dayak Ngaju di Desa Mantangai Hulu atau di wilayah gambut tidak bisa di pisahkan antara kehidupannya dengan lahan gambut dan hutan karena untuk mencapai kesejahteraan ekonomi maka Masyarakat Adat Dayak Ngaju mengandalkan hasil kekayaan alam dari lahan gambut dan hutan serta kebun karet dan ladang padi (budidaya pertanian).
Untuk mencapai taraf sejahtera, mereka perlu porsi lebih dan leluasa dalam mengakses hutan disekitarnya. Sebab demi memenuhi kebutuhan hidup, mereka memerlukan daya jelajah luas untuk mendapat rotan, gemor, ikan dan kayu. Kemudian hal itu disebut Daya Jelajah atau sebagai wilayah kelola Masyarakat Adat Dayak Ngaju. Daya jelajah berbeda dengan lahan yang dikelola sehari-hari seperti karet dan padi. Daya jelajah diartikan oleh penduduk setempat sebagai tempat berusaha bersama.
Pergantian musim merupakan siklus alam yang tak bisa disangkal. Konsekuensi dari pergantian musim itu mau tidak mau harus dihadapi oleh Masyarakat Adat Dayak Ngaju yang bermukim di wilayah Gambut seperti Desa Mantangai Hulu. Kondisi terkini, berbagai proyek yang mengatasnamakan kepentingan daerah, nasional bahkan internasional telah membatasi daya jelajah masyarakat. Padahal, luas daya jelajah tersebut sangat berpengaruh kepada mata pencaharian masyarakat, seiring dengan masih bergantungnya kehidupan masyarakat kepada keadaan musim dan kondisi hutan. Lebih jelasnya, pola mata pencaharian Masyarakat Adat Dayak Ngaju banyak tertuju ke arah lahan Gambut dan hutan sangat berbeda dengan pola mata pencaharian masyarakat yang bermukin ditanah mineral.
Namun beberapa pihak, termasuk pemerintah, tidak memahami kondisi tersebut. Sehingga berbagai proyek pembangunan seperti PLG, Perkebunan Sawit, Konservasi, dan REDD didatangkan dari luar tanpa memperhatikan atau berkonsultasi dengan masyarakat setempat yang sudah hidup bertahun-tahun lamanya. Akhirnya, proyek yang tadinya bertujuan untuk mensejahterakan rakyat, akan tetapi menjadi proyek pemiskinan yang dilakukan secara terus menerus karena betul-betul tidak menyentuh kepada Masyarakat.
C. Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Kearifan Lokal
Alam merupakan “titipan atau pinjaman”dari Tuhan (Lewu Injam Tingang) yang hanya bersifat sementara. Oleh karenanya, manusia hanya mengusai alam dengan arif dan bijaksana. Mereka tidak memiliki kekuasaan terhadap alam, sebab alam telah diciptakan dan diatur tatanannya oleh Tuhan (Ranying Mahatala Langit). Karena alam berupa “titipan atau pinjaman”, maka manusia hanya memanfaatkan alam seperlunya saja untuk kepentingan mempertahankan hidup. Hal ini tercermin dalam perilaku masyarakat Dayak di dalam menjaga agar komponen di dalam alam dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan. Hutan, misalnya, merupakan komponen penting bagi kelangsungan hidup mereka. Di dalam memanfaatkannya tidak dilakukan dengan sembarangan dan membabi buta.
Kayu dianggap secara filosofis memiliki 'roh', karena daripadanya masyarakat Dayak memperoleh manfaat bagi kehidupan. Penyucian hubungan tersebut dimaknai sebagai bagian dari upaya menjaga harmonisasi hubungan manusia dengan alam yang berimplikasi kepada keseimbangan kosmis secara menyeluruh. Mereka percaya bahwa tidak semua satwa dapat dibunuh dan dijadikan makanan. Ada beberapa jenis satwa yang dilindungi, di antaranya burung tingang atau enggang dan elang, misalnya. Burung enggang merupakan simbol penguasa Alam Atas, sedangkan burung elang dianggap sebagai burung “pemberi tanda” atau “petunjuk” (dahiang) (bdk.Riwut, 2003).
Perlakuan terhadap alam seperti halnya perlakuan kepada sesama manusia. Apa yang diberikan oleh alam merupakan karunia Tuhan yang harus dijaga keberlangsungannya. Oleh karena itu, perlakuan yang baik dalam mengusahakan alam bagi kepentingan hidup manusia akan memberikan dampak yang baik bagi kehidupan manusia. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dapat berjalan seiring dengan kemajuan pembangunan dengan berbasis pengetahuan lokal tentang pertanian, peternakan, dan perkebunan, serta pengelolaan hutan konservasi. Penggalakan usaha mikro, seperti pemeliharaan ikan dalam kolam yang disebut beje, pengelolaan danau adat bagi nelayan tradisional, dan lain-lain, merupakan kearifan dan pengetahuan lokal yang akan terus dikembangkan. Budidaya padi dan palawija serta sayur-mayur hutan, buah-buahan hutan, dan lain-lain, termasuk tanaman hutan bagi pengobatan dan kesehatan. Pada bidang perikanan, misalnya terdapat berbagai teknologi lokal yang ramah lingkungan, seperti alat tangkapan ikan tradisional, kegiatan manuwe (menuba) ikan dari getah pohon alami dan tidak berbahaya bagi kesehatan.
Beberapa alat tangkapan tradisional lainnya, seperti jerat, dondang (sejenis tombak pelontar), rangkep (perangkap), dan lain-lain, tidak bertujuan untuk mengakibatkan terjadinya kepunahan. Semua aktivitas pengusahaan alam dan hutan didasarkan pada pemahaman pemikiran yang telah dibuktikan berabad lamanya demi kepentingan generasi setelahnya.
C.1 Larangan menebang Pohon Banggeris
Berbagai sumber kebutuhan sehari-hari hampir sepenuhnya diperolah dari hasil hutan, seperti sumber makanan (buah-buahan durian – Durio sp., daging buruan dari babi liar - Sus scrofa atau payau – Cervus unicolor), kebudayaan (bulu ekor Enggang – Bucheros vigil digunakan sebagai hiasan topi tetua adat dan alat tarian wanita), pengobatan tradisional (Coptosapelta flavescens sebagai anti hepatitis), bahan kontruksi (kayu ulin – Eusideroxylon zwageri, jenis-jenis meranti – Shorea spp.), bahan bakar (kayu bakar dari Vitex pinnata, Hosfieldia grandis), dan berbagai kebutuhan lainnya. Pentingnya hutan menyebabkan pelestarian hutan adalah hal yang mutlak bagi mereka dan menciptakan berbagai kearifan lokal salah satunya adalah pelarangan penebangan pohon Banggeris (Koompassia sp.)
Pohon Banggeris di tengah hutan hujan tropis Kalimantan
Banggeris (Koompassia sp.) yang termasuk dalam keluarga tumbuhan Fabaceae ini merupakan salah satu jenis pohon tertinggi di hutan hujan tropis (dapat mencapai tinggi lebih dari 80 m) dan menjadikan spesies ini termasuk dalam Emergent Spesies. Pohon ini memiliki morfologi batang yang indah. Banggeris memiliki kualitas kayu keras yang baik dan bernilai ekonomi yang cukup tinggi. Meskipun demikian, penebangan pohon ini sangat dilarang oleh sebagian besar masyarakat adat dayak dan dianggap tabu.
Banggeris yang dapat tumbuh sangat tinggi dan batang pohonnya yang keras menjadikan pohon ini sebagai habitat yang cocok bagi sarang lebah madu yang ada di pulau Kalimantan, khususnya dari spesies Apis dorsata binghami.Lokasi sarang lebah madu yang tinggi dimaksudkan agar sarang aman dari ancaman predator seperi Beruang Madu (Helarctos malayanus). Lebah madu Apis dorsata binghami sendiri merupakan spesies lebah madu yang luas persebarannya meliputi Kalimantan (Indonesia), Serawak dan Sabah (Malaysia). Madu yang dihasilkan memiliki kualitas gizi yang sangat baik, komposisinya diantaranya berbagai jenis gula dan mineral seperti potasium, zat besi, kalsium dan magnesium.
Madu oleh masyarakat adat Dayak dianggap sebagai kebutuhan yang tak tergantikan. Selain digunakan oleh mereka sendiri, madu ini juga dijual dengan harga yang menggiurkan. Tingginya nilai madu ini memicu beberapa masyarakat adat dayak mengakusisi suatu pohon Banggeris sebagai kepemilikannya. Hal ini dilakukan agar madunya tidak diambil oleh orang lain. Pengambilan madu tanpa izin atau bahkan melakukan penebangan akan dapat dikenai hukum adat yang cukup berat, dapat berupa denda atau bentuk hukuman lain tergantung dari hukum yang berlaku di tiap sukunya. Kualitas madu yang baik bagi kesehatan dan nilai jual yang sangat menggiurkan inilah yang dianggap sebagai salah satu alasan mengapa pohon Banggeris ini sangat terlarang untuk ditebang. Saking terlarangnya, perusahaan logging,mining maupun perkebunan yang ada disekitar lingkungan masyarakat dayak juga harus mengikuti aturan ini.
Tantangan Kearifan Lokal di Era Global
Think Globaly Act Localy, Istilah yang cukup tepat untuk bertahan dalam era yang serba materealistik. Termasuk kedua suku diatas, antara Baduy dalam dengan suku Dayak Kalimatan. Kearifan lokal dilawankan dengan Modernisasi, meskipun kearifan lokal yang sudah diturunkan berabad – abad ke anak cucu tidak dipungkiri mengalami pergeseran – pergeseran. Arus modernisasi membawa mereka lebih konsumtif dan lebih tergantung pada nilai tukar uang yang di jaman nenek moyang tidak mereka kenal.
Globalisasi dan akses informasi yang tak terbatas melalui HP, internet atau saluran TV dan radio membawa kedua suku ini pada dunia yang baru. Dunia yang lebih mudah, lebih membahagiakan dengan cara – cara hedonis dan pragmatis. Kemudahan – kemudahan yang instan dalam mencapai kebahagiaan sementara. Kita akan temui di Kalimantan akan banyak terjadi gesekan – gesekan kebijakan yang tidak memperdulikan kearifan lokal. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian diatas. Kebijakan yang diambil tidak Bottom up, menyaring aspirasi bersama kearifan lokal yang sudah bertahan berabad tahun. Daya jelajah dan rotasi ladang berpindah suku dayak aksesnya terbatas dengan HTI, Tambang Batubara, Tambang minyak dan Gas Alam dan perkebunan Kelapa Sawit. Belum lagi dampak yang diakibatkan dari eksplorasi kapital diatas, misalkan kerusakan hutan, punahnya hewan yang biasa mereka buru untuk bahan makan, hilangnya tanaman obat, keringnya mata air, kebakaran hutan yang tidak terkendali, longsor, bahkan banjir tidak hanya terjadi di kota yang di muara dekat laut, wilayah hulupun banjir sudah biasa datang.
Suku Baduy dalam lebih mempertahankan tradisinya, karena di Jawa wilayah sudah sangat padat, mereka lebih ke budaya bercocok tanam dan tinggal di kampong mereka, jikapun ada peraturan yang melanggar mereka cukup keluar dengan tinggal bersama suku Baduy luar. Mempertahankan tradisi meskipun komprominya dengan merasa menjadi suku Baduy luar. Ditambah dengan kepentingan Pemerintah yang menjadikan Cagar Budaya untuk suku Baduy ini menyebabkan penyokong kehidupan meluas ke wilayah pariwisata. Mereka bisa menerima tamu, membuat cindera mata tanpa menghilangkan kearifan yang sudah bertahan berabad lamanya.
Tetapi Bagaimana dengan suku dayak yang sangat tergantung pada alam dan hutan? Kearifan – kearifan lokal yang mulai terkikis dengan budaya konsumtif, memperkenalkan mereka pada keserakahan akhirnya menjadi bagian konflik tersendiri, khususnya dikawasan – kawasan konservasi dan hutan lindung. Enclave atau perambahan tidak dapat dihindari di setiap kawasan konservasi. Karena kawasan – kawasan milik Negara inilah yang masih relative dapat dikendalikan dari sawit atau batubara. Tantangannya adalah bagaimana mengelola konflik ini, memperlakukan masyarakat adat atau suku dayak dengan kearifan lokal yang dimilikinya sebagai bagian dari pengambilan kebijakan. Pendampingan dan penyuluhan – penyuluhan menjadi alat komunikasi yang seharusnya efektif untuk mengurangi atau mencegah kerusakan – kerusakan kawasan konservasi. Toh kearifan lokal suku dayak sampai suku baduy, adanya kawasan konservasi serta industrialisasi pertambangan dan perkebunan akibat modernisasi semua berkepentingan untuk kesejahteraan manusia. Menjadi PR kesejahteraan ini hanya untuk generasi sekarang atau berpikir untuk anak cucu mendatang. Bukankah alam sudah mengajarkan dimana ada keselarasan keseimbangan dengan alam dan hutan aka nada keberlangsungan dan keberlanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Andi M. Akhmar dan Syarifuddin, 2007. Mengungkap Kearifan Lingkungan Sulawesi Selatan
PPLH Regional Sulawesi, Maluku dan Papua, Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI
dan Masagena Press, Makasar
Bakti Setiawan, 2006. Pembangunan Berkelanjutan dan Kearifan Lingkungan. Dari Ide Ke
Gerakan, PPLH Regional Jawa, Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI, Yogyakarta
Brennan, Andrew. Lo. Yeuk-See, 2002. Environmental Ethics, The Stanford Encyclopedia of
Phylosophy. Edward N Zalta (ed.), URL
Francis Wahono, 2005. Pangan, Kearifan Lokal dan Keanekaragaman Hayati, Penerbit
http://www.ugm.ac.id/id/post/page?id=5125
http://berita.borneoclimate.info/2013/01/17/konsep-pengelolaan-sda-masyarakat-adat-dayak-ngaju-dengan-menggunakan-kearifan-lokal/
http://jogjanews.com/kearifan-lokal-dayak-dalam-pengelolaan-sda-dan kewirausahaan-sosial2012/12/05/banggeris-bentuk-nyata-kearifan-lokal-masyarakat-dayak-dalam-pelestarian-hutan/#sthash.Wpvv8OIr.dpuf
http://hulumahakam.wordpress.com/2012/12/05/banggeris-bentuk-nyata-kearifan-lokal-masyarakat-dayak-dalam-pelestarian-hutan/
Minggu, 05 Agustus 2012
Menikmati Perjalanan Mendaki
Bontang, 6 Agustus 2012
Part 1 : Masa kecil didesa
Hari ini masih tersisa di bulan Romadlon, tetapi saya tidak hendak bercerita tentang puasa. Saya mau berbagi cerita tentang pengalaman menjelajah saya. Hobby ini awalnya dari masa kecil, ya kalau dibilang sekarang mirip acara Bolang ( Bocah Petualang ) di TV. Saya tinggal di pinggiran Kota Surabaya, saat itu masih ditemui sawah – sawah membentang, kebun2 yang meneduhkan. Banyak sekali pengalaman menarik pada masa kecilku. Apalagi pada saat libur puasa, berjalan – jalan menelusuri sawah, tebu, sungai sudah menjadi keasyikan tersendiri. Hampir setiap hari di siang selepas sekolah, saya selalu kekebun2, memanjat mangga, kebun jambu orang, adrenalin muncul kalau si Empunya kebun jambu, marah – marah teriak …Maling – maling, secepat kilat kita pergi dengan jambu diselip dikaos perut. Dalam menjalankan aksi memang selalu bersama, sekitar 3 – 5 orang. Pernah juga suatu waktu, saya memanjat keres ( kersen, cilok, ceri) untuk batang pohon ini memang agak rapuh, tapi sangat mudah untuk dipanjat, kami berdua sepohon, tiba2 teman saya jatuh karena salah ranting..Bukkkk…waduh….anaknya diam saja, apa pingsan ya… nggak lama kemudian dihidungnya keluar darah…seketika itu saya lari sekencang – kencangnya mencari bantuan.
Kejadian teman jatuh ternyata tidak membuat saya kapok untuk menjelajah lagi, kali ini pohonan yang dituju adalah kuburan, tempat ini bagi saya indah sekali, saya menemukan keteduhan yang menetramkan hati disaat terik matahari, tetapi aroma mistis tiba2 memberdirikan bulu kudu ketika menjelang sore ke maghrib. Mencari2 bunga kamboja yang jumlah kelopaknya tidak biasanya, seperti 4, 6 atau 8 katanya sich kalo di simpen di Al Quran jadi pinter, apalagi kalo disimpen di Buku pelajaran pasti dapat menguasai ilmu dari pelajaran itu secara baik. Selain kamboja pohon2 berbuah juga banyak, akhirnya kami sampai pada pohon ceri lagi, buahnya merah bulat menggoda, tapi sayangnya pohonnya tidak di kuburan, sedikit melenceng ke halaman belakang orang. Alhasil dipanjatlah pohon tersebut, karena pohonnya kecil saya pilih anak buah yang kecil untuk manjat…..Brukkkk…jatuh lagi tapi kali ini di kamar mandi orang nembus asbes….wuahhhhh lari….secepatnya ku tolong untuk segera keluar dari bak mandi lari kencang lewat kuburan. Wushhh ….selamet3x…
Saya juga suka bersepeda, kami sering ke Juanda melihat pesawat yang bisa terbang sambil memancing belut, ketetangga desa, kekecamatan lain, setiap trip selalu ada pengalaman yang luar biasa. Saya juga sering menghabiskan waktu siang di belakang rumah, buat tenda dari klaras ( daun pisang yang kering), buat rumah pohon dan berayun2 di pohon2nya. Rumah pohon adalah sarang favorit saya. Jika dipanggil untuk tidur siang, Kami bisa bersembunyi sampai sore tanpa diketemukan. Suatu waktu saya memanjat pohon dan setelah mengintip dirumah yang tertutup rapat, ternyata orang tersebut pelihara kodok gedhe, saat itu saya bingung buat apa pelihara kodok, dan jawabannya baru muncul 10 tahunan kemudian ketika saya kuliah dan melewati jalur ngapak ( kebumen, slawi, banyumasan ) ternyata kodok dibuat hidangan lezat bermerk “ Sate Swike “.
Ada juga cerita menarik pada saat puasaan, kami bersekolah di SD negeri, seperti biasanya selalu setiap tahunnya ada pondok romadlon mungkin hari ini lebih ngetrend dengan istilah Sanlat atau pesantren kilat. Cuma semalam sich, tapi kita bisa seru – seruan. Mulai dari hantu – hantuan, saya jadi hantu dan godain teman2 cewek yang mau tidur atau kebelakang kekamar mandi, jika mereka berteriak sampai terkencing – kencing baru saya muncul…hahahaha, kalo sholat terawih disekolah juga seru yang asyik pada saat rukuk, namanya juga berjamaah pada saat rukuk maupun berdiri saya sering senggol kesamping kiri dan kanan, jamaahpun berantakan jatuh semua. Hahaha seru sekali saat itu, bisa membuat imamnya marah…Saya melakukan itu sebenarnya untuk menutupi kepiluan saya, saya berusaha menghibur diri sendiri, setiap kali buka puasa saat saat pondok romadlon atau sahur, setiap orang tua menghantarkan bekal untuk anaknya, sedangkan saya tidak sekalipun pernah terhantar. Hal ini berlanjut di dunia sekolah juga, setiap kali rangking satu, tidak ada kebanggaan yang muncul, yang ada adalah tangis kesedihan, krn salah satu atau kedua orang tua tidak bangga mengambil raport anaknya, biarpun saya adalah anak satu – satunya dari mereka yang terpisah sejak umurku 7 bulan.
Rabu, 01 Agustus 2012
Puasa kini berbeda karena biasa...
Ketika Saya sudah mulai mengenal ibadah termasuk sholat, saya termasuk anak yang selalu ingin tahu, saat itu ingin sekali memakai mukena, tapi tidak terbeli, akhirnya jarik dari mbahku yang kupakai, menutupi ala ninja berfungsi seperti mukena.Sampai pada rutinitas ibadah puasa, setiap hari selalu tak terlewat untuk mengikuti rutinitas yang biasa ini. Selalu ada kerinduan, disetiap tahunnya, pada saat TK aku mulai mengerti bahwa muslim itu wajib puasa, saat itu saya kentutpun kutahan biar puasanya sempurna, meskipun hanya setengah hari. selanjutnya hari2 sekolah yang libur dihabiskan dengan jalan - jalan sambil perang petasan dan main domino.
Tapi ibadahnya juga tidak kalah, Saya termasuk anak yang cepat ngajinya, maklum sejak SD aku sudah mulai mengajar ngaji, privati anak sehingga setiap kali dimasjid tadarus bergroup minimal 7 kali qhatam quran saat romadlon, setiap khatam selalu di akhiri dengan syukuran tumpeng, ada yang bawa nasi, kering, ayam, buah atau minum. ngajinya juga bergantian, hbs terawih yang ngaji perempuan, baru setelah jam 10, 11 malam dihanti yang laki2. aku juga berusaha nggak bolong utuh sampai 23 rokaat, pada saat sholat witir hari ke 20, saya nggak pernah lupa kalo diselingi baca " Allahummadini fiman hadaid...amin".Itu berlangsung sampai SMA, ada satu hal yang menarik saat tadarus dimasjid desa saat usiaku SMA, saat itu aku selalu menunggu, bersemangat, berenergi dari ayat satu ke ayat yang lain satu nama yang selalu kubaca dengan penuh perasaan. Nama itu adalah nama seseorang kakak kelas yang kukagumi saat SMA, bukan cinta pertama sich...
Rutinitas setiap romadlon itu berlalu ketika Saya hijrah kuliah di Jogja, banyak hal yang kutemui, dengan adat baru, teman baru, kebiasaan baru, yang kuingat melewatkan romadlon saat kuliah adalah selalu mencari masjid yang baru, untuk nemu takjil atau bukaan gratis, banyak masjid yang sholatnya nggak sampai 23, cukup 8 rokaat witirnya bisa dirumah. Saya sering memasak dikontrakan, es buah, es sarang burung, ikan bakar, dan selalu saya bagi2 dengan komunitas yang tinggal dikontrakan yang lain. Kebetulan saat itu saya juga bertemu dengan calon suami saya, alhasil kontrakannya selalu kebanjiran rejeki berupa makanan dan minuman yang dibuat dengan cinta. Yang menarik lagi untuk menyakinkan keseriusan hubungan saya, saya bela - belain berkunjung ke calon mertua, dengan naik kereta ekonomi, berangkatnya sich asik2 saja, tapi ketika pulang saat itu H-2 menjelang lebaran saya harus berdesakan di kereta ekonomi berdiri dengan satu kaki dari Cirebon sampai Surabaya....walah merasakan juga mudik ala Indonesia.
Setelah menikah, saya masih di Yogja, saat Romadlon datang, kebetulan saya langsung hamil, selalu muntah selalu mual. Saya pindah kontrakan, saat itu berharap dapat kontrakan yang seperti rumah selayaknya orang rumah tangga, tetapi harus dimaklumi dengan kontrakan 1 kamar saja, ya namanya kos2an, saya bertetangga kamar dengan keluarga yang beranak 3, istri dirumah suami kuli panggul pasar. sedangkan suami saya apel mingguan karena kerjanya lintas propinsi di daerah pacitan. Dia menyadap getah pinus dijual ke pekalongan, bahkan terkadang nyupirin truk sendiri. Saya sering berganti puskesmas atau rumah bersalin untuk memeriksakan kandungan saya, pernah suatu saat karena kondisi mual terus, dan itu tidak mungkin puasa saya dikasih saran bahwa Allah memberikan keringanan untuk ibu2 yang hamil, menyusui atau sakit. seketika ada yang berbeda di romadlon saat itu. karena kondisi saya muntah terus kami dikash resep anti muntah dan vitamin, diminum 2 jam sebelum makan, pilnya kayaknya warna pink2 gitu. Kemudian ditebuslah si obat, tapi melihat harganya saat itu tidak ada uang didompet yang cukup untuk menebusnya, suami pura2 ijin ke farmasinya ambil ATM, tetapi dia muter ke kontrakan teman2 nyari utangan, alhasil kami hanya mampu nebus separoh, dan pil2 itupun nggak terminum krn tetap saja dimuntahkan.
Beberapa minggu kemudian saya periksa lagi, saat itu satu kerinduanku aku ingin pulang, merasakan lebaran seperti dimasjidku dulu, tapi apa yang bidan bilang : "Keluargamu sudah disini, ada suami dan anak di kandunganmu, sebaiknya tidak melakukan perjalanan krn usia kandungan masih muda". Untuk pertama kalinya saya tidak lebaran di kampung halaman saya. Sedih rasanya...
Beberapa bulan kemudian, kami hijrah kekalimantan, tentunya kalau mau pulang harus nyebrang pulau dengan perjalanan udara atau kapal, kini sudah ada si kecil, kami jauh, kami mulai lagi dari awal, menikmati hidup berkeluarga, kami terbiasa tidak harus pulang berlebaran. Dan kami bersepakat akan pulang KeJawa setiap 2 Tahunan, ini adalah tahun keempat, saya tinggal, thn ini harusnya saya pulang, tetapi kok rasanya biasa saja, dari awal Romadlon sampai detik inipun tidak ada kerinduan yang menggebu, tidak ada rutinitas yang ditunggu, apakah sayanya yang berubah atau Romadlonya yang sekarang berubah. Semua menjadi biasa saja...lewat mungkin sedikit berbekas.
Kamis, 18 Agustus 2011
ada apa dengan sekolah SIT
Generasi Kreative, berkarakter dan berakhlak, Bagaimana caranya?
Lebih dekat dengan dengan sekolah SIT bersama Sukro Muhab
Bontang, 9 Juli 2011
Pada hari Sabtu, 9 Juli 2011 pukul 13.00 – 17.00 di Hall Aula SDIT Asy Syaamil, Bontang Kedatangan tamu dari Jakarta yaitu Drs. Sukro Muhab, M.Si selaku ketua JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu) Pusat yang menginduki kurang lebih 1623 SIT Sekolah Islam Terpadu dari TKIT,SDIT,SMPIT sampai SMAIT se –Indonesia. Termasuk TKIT Qurrota A’yun, SDIT Asy Syaamil dan SMPIT Daarul Hikmah Boarding School didalamnya yang menjadi satu – satunya sekolah IT di Bontang yang tergabung dalam JSIT.
Selain Silaturahim Bapak Sukro berbicara lebih jauh lagi dengan konsep sekolah SIT, acara diikuti kurang lebih 50 orang staf pengajar yang tergabung dalam Yayasan KPI Asy Syaamil tersebut. Dimulai dengan presentasi antusiasisme sekolah2 yang ingin bergabung dalam SIT se- Indonesia dan optimismenya generasi yang creative, berkarakter dan berakhlak yang mampu diwujudkannya. Mencetak generasi yang creative dipilih terlebih seperti yang dicontohkan oleh Negara Jepang, pendidikan disana lebih mengutamakan kreativitas terlebih dahulu baru melakukan proses belajar membaca, menulis dan berhitung, contohnya pada anak usia TK dijepang diajari Origami (melipat kertas ) terlebih dahulu untuk memunculkan kreativitasnya, jika berhubungan dengan ilmu alam anak didik dengan menanam, sehingga hasilnya yang terlihat seseorang bekerja akan selalu muncul kreativitasnya. Tantangan abad 21 pendidikan yang memunculkan kreativitas mengarah kepada pembelajaran yang tidak hanya menyeleseikan soal tetapi menyeleseikan persoalan.
Pendidikan yang diberikan sekarang seringkali terjebak pada nilai yang diukur dari rumus – rumus dan soal – soal, tetapi tidak menjawab persoalan yang terjadi disekitarnya. Lebih lanjut beliau menerangkan tentang bagaimana orang Jepang dapat menciptakan alat, meskipun mereka tidak mempunyai bahan bakunya, karena didalam pendidikan mereka selalu mengutamakan problem solving yang mungkin sangat dibutuhkan untuk generasi sekarang. “seperti itik meninggal karena kehausan dipinggir sungai atau sawah yang banyak padi atau makanannya “ perumpamaan yang beliau ungkapkan menggambarkan bagaimana proses pembelajaran di Negara kita. Proses membaca, menulis, menghitung dan menghafal itu hanya tool sedangkan kuncinya ada pada kreativitas sebagai sarana.
Pendidikan kreative tidak cukup dengan instruksional dengan memberikan instruksi atau perintah yang jelas kepada anak didik, tetapi soal – soal itu langsung pada masalahnya, sehingga anak didik terbiasa menyeleseikan persoalan karena mereka mempunyai keharusan untuk meng-create sesuatu.
Kemudian pendidikan bekarakter dan berakhlak itu menjadi penting, karena pada kenyataannya intelektualitas tinggi tanpa memiliki karakter dan akhlak yang mulia pendidikan tidak membawa kemajuan peradaban manusia. “ seperti kita tahu saking kreativenya wisma Atlit yang sedang dibangunpun, belum jadi bahkan digunakan sudah terindikasi korupsi, atau bahkan creative memalsukan surat meskipun tahu bagaiman hukumnya” penjelasan berbagai masalah karakter dan akhlak. Pemerintah SBY tahun 2009 menggembar-gemborkan pendidikan karakter, tetapi belum menjelaskan bagaimana mengukur pelaksanaan pendidikan karakter ini. Kenyataannya tidak identik antara prilaku dan nilai. Dalam konsep SIT akan memberikan proses pendidikan yang menyeluruh untuk membentuk manusia yang holistic yang yang memunculkan seluruh potensi akademik, potensi social, potensi fisik, potensi emosi , potensi kreativ yang dibingkai dalam dasar potensi spiritualitas.

Contoh – contoh bagaimana cara mendidiknya akan dibahas dalam seminarnya besok pagi, salahsatunya ialah tauladan dari guru sendiri, misalkan seringkali kita melihat guru memberikan deadline kepada siswa tentang tugas atau PR, siswa sudah berusaha tepat waktu tetapi tidak sedikit dari guru tersebut menunda untuk mengoreksinya, guru berhak sewaktu – waktu untuk mengoreksi, selain itu seringkali ketidak konsistenan itu muncul dengan memberikan peraturan yang sepihak, seperti murid tidak boleh masuk kelas jika terlambat lebih dari 10 menit, sedangkan jika guru terlambat? Kembali lagi kepada problem solving tugas atau PR itu menjadi hal yang wajib bagi siswa untuk memberikan latihan kepada anak didik untuk terbiasa produktif terhadap waktu, tetapi masalahnya jenis PR atau tugas lagi – lagi terjebak pada soal – soal yang tidak memecahkan persoalan hanya memecahkan soal, “disekolah sudah diterangkan soal, kemudian LKS menyeleseikan soal, masa pulang membawa tugas berupa soal?” lanjutnya. Guru harus berani memberikan tugas berupa lembar obvervasi, lembar wawancara, atau produk- produk yang harus dibuat. Selamat berjuang guruku, harapan itu masih ada! Harapan yang disampaikan Bapak Sukro ketua JSIT Pusat sekaligus direktur PP-IPTEK ( pusat peragaan IPTEK ) TMII Jakarta.
Rofiah, ST Staf pengajar SMPIT Daarul Hikmah Boarding School
Selasa, 25 Januari 2011
hari yang sangat biasa
hari - hari berlalu dengan biasa
tanpa makna dan kata
berjalan seperti biasa
membiaskan gairah dan asa
tanpa makna dan kata
berjalan seperti biasa
membiaskan gairah dan asa
Langganan:
Postingan (Atom)